Bukuini juga menggambarkan debat mutakhir mengenai Islam dan negara, khususnya menyangkut perlunya diterima paham negara sekular daripada negara Islam. Digambarkan juga perkembangan ide-ide berkaitan dengan gender, dan pluralisme. riba dan bunga bank, zakat sebagai pajak, sembelihan mesin, soal Sunnah, Hadis dan wahyu.30 Dalam dunia SurahAl-Infitar (bahasa Arab:الانفطار) adalah surah ke-82 dalam al Qur’an. Surah ini terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan setelah surah An-Nazi’at. Al Infithaar yang dijadikan nama untuk surat ini adalah kata asal dari kata Infatharat (terbelah) yang terdapat pada ayat pertama. Nomor Surah. 1 Ulumul Qur’an Makkiyyah dan Madaniyyah Di susun oleh: Maya Ratnasari (131211047) Rizki Intan Aulia (131211048) Martabatul Aliyah (131211059) Saidatur Rohmah (131211050) Nur Hidayat (131211051) 2. Arti surah Makkiyah dan Madaniyah • Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke madinah, kendatipun bukan Selainitu, ada beberapa aturan khusus dalam penyusunan soal pilihan ganda yang bisa digunakan sebagai petunjuk: Aturan dalam menulis soal pilihan ganda: 1. Tulis batang soal yang menunjukkan sebuah masalah yang jelas. 2. Buatlah soal singkat dan jelas (hindari panjang lebar dan stuktur kalimat yang komplek) 3. MakalahMakkiyah dan Madaniyah - sahabat sejuta warna kali ini admin postingkan materi ulumul quran tentang makkiyah dan madaniyah silahkan simak dibawah ini. MAKKIYAH DAN MADANIYAH. 2.1 Definisi Makkiyyah dan Madaniyyah. Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi makki y yah dan madaniy y ah. Keempat MAKKIYAHDAN MADANIYAH. Disusun Guna Memenuhi Tugas. Mata Kuliah : Ulumul Qur’an. Dosen Pengampu : Shobirin S.ag, M.ag. Oleh : Kelas / Semester : B / II. Awaliyatu Khoirunnisa’ (1420210056) SEKOLAH TINGGI Aganambil hp android agan dan coba agan cabut batre , dan ambil multitester analog set dio kali x10 dan jangan lupa di kalibrasi terlebih dahulu. Mengukur baterai xiaomi dengan kapasitas 3,7 volt. 200 mv artinya mengukur tegangan maksimal 0,2 volt; Cara menentukan fungsi kabel pada motor listrik kapasitor 6. Terutama untuk mengukur konslet Cobasaudara tuangkan gagasan/ide saudara dalam bentuk essay sepanjang 1 halaman. Jelaskan tanggapan Anda mengenai hal di berikut di bawah ini:. Kenapa ayat itu terbagi bagi menjadi Makkiyah dan Madaniyah. Berikut pembahasan soal untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 10 halaman 266. Berikut pembahasan soal halaman 266 ini, akan Semoga10 Contoh Soal Essay Pernikahan Beserta Jawaban ini bermanfaat banyak. Soal No. 1). Jelaskan Hukum Nikah! Jawaban: a. Hukum Wajib tentang Nikah. Nikah dapat dijatuhi hukum wajib apabila salah satu diantaranya memiliki kadar libido yang tinggi dan dikhawatirkan tidak mampu untuk menahan hawa nafsu yang dimiliki. b. SuratMakkiyah adalah turun Nabi Muhammad saw. hijrah. A. Ketika . B. Sebelum. C. Sesudah I. Pilihlah Jawaban huruf A, B, C, dan D, jawaban soal yang paling benar ! 1. Surat al-Qari’ah menerangkan tentang kejadian Promes dan Prota Kelas 5 uCVCoj. Apa manfaat setelah kita mengetahui tiga pendapat ulama ahli Ilmu Al-Qur’an tentang kategorisasi ayat Makkiyyah dan Madaniyyah? Informasi terkait pendapat yang populer, ideal, tidak problematik, dan dapat diterima secara ilmiah dari segi waktu penurunan ayat sangat penting. Dalam konteks ini minimal ada tiga faedah yang didapatkan. Faedah pertama, untuk membedakan ayat yang menasikh dan ayat yang dinasakh. Mana ayat yang hukumnya menghilangkan hukum dalam ayat lain dan mana ayat yang hukumnya dihilangkan dengan ayat lain. Dengan kata lain, informasi itu penting ketika dijumpai dua atau beberapa ayat Al-Qur’an dalam satu tema. Sementara hukum dalam salah satu atau beberapa ayat tersebut berbeda dengan hukum yang ada di ayat lainnya, lalu diketahui mana ayat yang termasuk kategori Makkiyyah dan mana yang Madaniyyah. Sebab ulama ahli Ilmu Al-Qur'an mempunyai prinsip hukum, bahwa ayat-ayat Madaniyyah menasakh ayat-ayat Makkiyah karena memandang bahwa ayat Madaniyyah turun lebih akhir daripada ayat Makkiyyah. Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqani, Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an, [Kairo, Isa Al-Babi Al-Halabi wa Syirkah tanpa tahun], juz I, halaman 94 dan juz II, halaman 176. Dalam konteks ini pakar tafsir Al-Qur’an asal Kota Baghdad, Al-Imam Al-Muqri w. 410 H/1019 M dalam karyanya An-Nashikh wal Mansukh fil Qur’an menjelaskan وَنُزُولُ الْمَنْسُوخِ بِمَكَّةَ كَثِيرٌ وَنُزُولُ النَّاسِخِ بِالْمَدِينَةِ كَثِيرٌ. Artinya, “Turunnya ayat yang dimansukh di Kota Makkah banyak, dan turunnya ayat yang memansukh di kota Madinah juga banyak,” Al-Muqri, An-Nasikh wal Mansukh 30. Faedah kedua, adalah untuk mengetahui secara global tarikh tasyri’ dari suatu hukum dan tahapan-tahapannya yang sarat hikmah. Dari sinilah kemudian akan muncul semangat keislaman dan keimanan yang kuat karena begitu bijaknya syariat Islam dalam mendidik masyarakat, bangsa dan individu-individunya. Pemahaman atas perbedaan kategori antara ayat Makkiyah dan Madaniyyah akan menyadarkan bahwa syariat Islam mengandung berbagai hikmah syariat Islam yang sangat agung. Faedah ketiga, untuk semakin menguatkan kepercayaan atas validitas dan orisinalitas Al-Qur’an yang kita terima dan selalu kita baca hari ini, yang terhindar dari perubahan dan penyelewengan redaksional maupun hukum-hukumnya. Hal itu ditunjukkan dengan begitu perhatiannya umat Islam sepanjang sejarahnya. Terbukti sejak dulu hingga sekarang umat Islam selalu mengkaji Al-Qur’an dari berbagai aspek. Kajian itu mencakup mana ayat Al-Qur’an yang turun sebelum hijrah dan yang turun setelahnya; mana ayat Al-Qur’an yang turun di kota domisili Rasulullah SAW dan mana yang turun dalam perjalanannya; mana ayat yang turun di siang hari dan mana yang turun di malam hari; mana ayat yang turun di musim panas dan mana yang turun di musim dingin; mana ayat yang turun di bumi dan mana yang turun di langit, serta hal-hal lainnya. Bila demikian komprehensifnya kajian Al-Qur’an yang dilakukan oleh umat Islam sepanjang sejarah, maka akal sehat sangat tidak menerima akan adanya orang yang mampu mengubah-ubah dan mempermainkannya. Sebab umat Islam, ulama, selalu menjaga dan mengkajinya dari berbagai aspek secara komprehensif. Az-Zarqani, Manahilul Irfan I/95. Sunnatullah penjagaan umat Islam terhadap Al-Qur’an seperti itu sudah sesuai dengan sunnatullah lainnya yang terekam jelas dalam firman Allah SWT إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ Artinya, “Sungguh Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sungguh Kami benar-benar memeliharanya,” Surat Al-Hijr ayat 9. Walhasil, dengan memahami istilah ayat Makiyyah dan ayat Madaniyyah, kita akan dapat memahami Al-Qur’an secara lebih baik, meningkatkan keimanan, dan kecintaan kita terhadapnya. Semoga. Amīn. Ustadz Ahmad Muntaha AM, Founder AswajaMuda Diantara bahasan dalam ilmu Al Qur’an adalah pembahasan mengenai Makiyyah dan Madaniyyah. Yaitu diantara surat-surat dalam Al Qur’an ada yang disebut sebagai surat Makiyyah dan ada yang disebut sebagai surat Madaniyah. Misalnya surat Al An’am dan Al A’raf adalah surat Makiyyah. Sedangkan Al Baqarah dan Al Imran adalah surat definisi dan apa saja perbedaannya? Insya Allah akan kita sebutkan secara ringkas dalam artikel ini. Dan yang akan kami sebutkan dalam artikel ini hanya muqaddimah atau pengenalan saja dari cabang ilmu Makki wal Madini yang merupakan cabang dari uluumul Qur’an ilmu-ilmu Al Qur’an.Dengan mengenal dan mempelajari ilmu ini juga, kita akan mengetahui betapa besar perhatian dan usaha para ulama dalam mempelajari serta menelaah Al Qur’anul Karim. Karena para ulama memberikan perhatian yang sangat besar dalam menganalisa mana yang surat atau ayat Makiyyah dan mana yang Madaniyyah. Mereka menganalisa ayat per ayat, surat per surat, lalu mengurutkan dan mengelompokkannya berdasarkan waktu, tempat dan mukhathab ayat atau surat tersebut diturunkan. Bukan hanya faktor waktu, tempat dan mukhathab sasaran pembicaran ketika ayat diturunkan yang menjadi patokan pengelompokan, namun terkadang mereka menggabungkan tiga faktor ini dalam pengurutan dan pengelompokkan ayat dan surat. Semuanya dilakukan dengan sangat teliti dan mendetail. Tentunya ini merupakan usaha yang berat dan besar yang telah dilakukan oleh para ulama kita, rahimahumullah jami’ Makiyyah dan MadaniyyahBagaimana para ulama mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah?Kaidah dan Karakteristik Makiyyah dan MadaniyyahKaidah-kaidah MadaniyyahDefinisi Makiyyah dan MadaniyyahUlama berbeda pendapat dalam mendefinisikan Makiyyah dan Madaniyyah menjadi tiga pendapat. Yang khilaf ini merupakan khilaf isthilahiy karena masing-masing pendapat menggunakan pendekatan yang pertama, menggunakan pendekatan waktu. Makiyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan sebelum hijrah walaupun bukan di Mekkah. Sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan setelah hijrah walaupun bukan di Madinah. Demikian juga ayat atau surat yang turun di Mekkah namun setelah hijrah, maka termasuk Madaniyyah. Contohnya ayatإِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” QS. An Nisa 58Ini ayat Madaniyyah karena ayat ini turun di Mekkah di sisi Ka’bah di tahun terjadinya Fathul Mekkah. Juga ayatالْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” QS. Al Maidah 3.Ini adalah ayat Madaniyah walaupun turun di Mekkah, namun ia turun pada waktu haji Wada’.Pendapat ini adalah pendapat yang paling banyak dikuatkan karena batasannya jelas dan pembagiannya konsisten serta mencakup semua ayat dan surat, tidak sebagaimana dua pendapat lainnyaPendapat kedua, menggunakan pendekatan tempat. Makiyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan di Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan di Madinah. Namun pembagian ini bermasalah ketika menemui fakta bahwa ada surat atau ayat yang diturunkan selain di Mekkah dan Madinah. Seperti surat atau ayat yang diturunkan di Tabuk, di Baitul Maqdis, dan lainnya, tidak masuk dalam pembagian. Demikian juga surat atau ayat yang di turunkan di Mekkah namun setelah peristiwa hijrah, konsekuensinya ia dikategorikan sebagai Makiyyah, padahal tidak sesuai dengan ciri dan sifat Makiyyah. Sehingga ada inkonsistensi di ketiga, menggunakan pendekatan mukhathab sasaran pembicaraan ayat. Makiyyah adalah surat atau ayat yang ditujukan bagi penduduk Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang ditujukan bagi penduduk Madinah. Ulama yang berpegang pada pendapat ini, sebenarnya berpatokan pada kaidah jika surat atau ayat diawali “yaa ayyuhannaas” wahai manusia… maka ia Makiyyah, jika diawali “yaa ayyuhalladzina aamanu” wahai orang-orang yang beriman… maka ia para ulama mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah?Bagaimana ulama bisa sampai pada kesimpulan bahwa ayat atau surat ini Makiyyah atau yang itu Madaniyyah? Mereka bertopang pada dua metode pokok1. Metode sima’i naqliYaitu dalam menentukan Makiyyah dan Madaniyyah mereka melihat kepada riwayat-riwayat dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang shahih yang menjelaskan turunnya suatu ayat. Dan juga riwayat dari para sahabat Nabi yang mereka melihat, menyaksikan dan mengetahui secara jelas kapan, dimana, mengapa dan bagaimana ayat-ayat Al Qur’an turun. Demikian juga riwayat-riwayat dari para tabi’in yang mereka bertemu dan berguru kepada para sahabat dan mendapatkan informasi mengenai Al Qur’an dari para sahabat. Metode inilah yang menjadi metode utama dan sumber pengambilan utama untuk mengetahui Makkiyyah dan Metode qiyasi ijtihadiYaitu pada ayat dan surat yang tidak terdapat riwayat secara tegas yang menjelaskan mengenai waktu, tempat dan kondisi turunnya. Para ulama berpegang pada karakteristik ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah yang terdapat riwayatnya kemudian meng-qiyaskannya dengan ayat dan surat selainnya. Jika suatu ayat mengandung karakteristik Makiyyah maka disebut sebagai ayat Makiyyah, demikian juga Madaniyyah. Oleh karena itu metode ini bersifat ijtihadiy, artinya bisa jadi antara ulama yang satu dengan yang lain berbeda ijtihadnya dalam menentukan Makiyyah dan Madaniyyah dengan metode dan Karakteristik Makiyyah dan MadaniyyahPara ulama setelah menelaah ayat-ayat Al Qur’an, mereka menyusun kaidah dan juga menemukan karakteristik yang khas untuk masing-masing surat dan ayat Makiyyah dan kaidah yang disusun oleh para ulama untuk memudahkan kita mengenal surat dan ayat Makiyyah dan Madaniyyah adalah sebagai berikutKaidah-kaidah MakiyyahSetiap surat yang terdapat ayat sajdah maka ia MakiyyahSetiap surat yang terdapat kata كلا kalla maka ia Makiyyah yang hanya terdapat di setelah pertengahan dari Al Qur’an. Terdapat 33 kata كلا kalla dalam Al Qur’an yang terdapat dalam 15 surat yang terdapat “yaa ayyuhannaas” namun tidak terdapat “yaa ayyuhalladzina aamanu” maka ia Makiyyah. Kecuali surat Al Hajj yang terdapat ayatيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu” namun para ulama tetap menganggap surat Al Hajj sebagai surat surat yang terdapat kisah para Nabi dan umat terdahulu maka ia surat Makiyyah kecuali Al surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan iblis maka ia Makiyyah kecuali Al surat yang dibuka dengan huruf tahajji seperti “alif laam miim”, “alif laam raa”, “haa miim” dan semisalnya, adalah surat Makiyyah. Kecuali surat yang dijuluki zahrawain, yaitu Al Baqarah dan Al Imran. Adapun surat Ar Ra’du diperselisihkan apakah ia Madaniyyah atau MadaniyyahSetiap surat yang terdapat penjelasan tentang ibadah-ibadah wajib dan hukuman hadd, ia MadaniyyahSetiap surat yang terdapat penyebutan kaum munafik maka ia Madaniyyah kecuali Al surat yang terdapat bantahan terhadap Ahlul Kitab maka ia ulama juga setelah menelaah ayat dan surat dalam Al Qur’an menemukan bahwa masing-masing Makiyyah dan Madaniyyah memiliki ciri-ciri khusus dari sisi konten isi ayat atau surat, yang membedakan isi surat MakiyyahDakwah kepada tauhid dan beribadah kepada Allah semata, menetapkan risalah kerasulan, menetapkan hari kebangkitan dan ganjaran amalan, penyebutan kabar tentang hari kiamat, neraka, surga, dan bantahan terhadap kaum Musyrikin dengan logika Al Qur’an, serta ayat-ayat landasan-landasan umum syariat serta akhlak-akhlak mulia serta penyebutan akhlak-akhlak tercela serta kebiasaan-kebiasaan buruk kaum tentang para Nabi dan kaum terdahulu serta ganjaran bagi kaum fawashil susunan kalimat yang menyerupai sajak yang pendek-pendek namun dengan ungkapan yang kokoh namun istimewa yang mengena di hati dan menguatkan serta memotivasi isi surat MadaniyyahPenjelasan tentang ibadah, muamalah, hukuman hadd, aturan rumah tanga, aturan waris, keutamaan jihad, perbaikan masyarakat, perkara kenegaraan dalam keadaan tenang dan perang, serta kaidah-kaidah dan sanggahan untuk Ahlul Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani. Ajakan bagi mereka untuk masuk Islam, penjelasan bahwa mereka telah menyelewengkan kitab-kitab Allah, penyimpangan mereka dari kebenaran, dan penyelisihan mereka terhadap kebenaran setelah adanya bukti dan penjelasan yang tabiat kaum munafik dan menjelaskan bahayanya mereka bagi agamaPenyebutan ungkapan-ungkapan pendek secara sering dan berulang dalam rangka menegaskan dan menetapkan syariat dan menjelaskan artikel selanjutnya akan disebutkan surat mana saja yang Makiyyah dan mana saja yang Madaniyyah, insya Allah[bersambung]***Rujukan Mabahits fii Ulumil Qur’an, Syaikh Manna’ Khalil Al Qathan, hal. 51 – 64, cetakan Mansyurat Al Ashr Al HaditsPenyusun Yulian PurnamaArtikel Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang wajib diketahui setiap muslim untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sekadar mengetahui dan menghafalnya saja tidak cukup, kita juga harus dapat memahami isinya secara komprehensif. Bagi para sahabat yang hidup di masa Rasul, memahami Al-Qur’an terbilang lebih mudah. Selain karena bahasa yang digunakan adalah bahasa ibu mereka, Rasulullah masih ada untuk menjelaskan dan mengoreksi pemahaman mereka. Ketika agama Islam telah berkembang dan dianut oleh masyarakat di luar jazirah Arab, maka upaya memahami Al-Qur’an melahirkan berbagai disiplin ilmu. Seperti ilmu tafsir, ilmu qiroah, dan seterusnya. Salah satu ilmu yang perlu dipelajari untuk memahami Al-Qur’an adalah ilmu tentang ayat Makkiyah dan Madaniyah. Pemahaman tentang hal ini penting karena memberikan dampak pada penafsiran kandungan Al-Qur’an. Apa Itu Konsep Makkiyah dan Madaniyah? Nama Makkiyah dan Madaniyah diambil dari kata Makkah dan Madinah. Makkah sebagai tempat Rasulullah dinobatkan sebagai utusan-Nya dan tempat beliau berinteraksi dengan kaum Quraisy, serta Madinah sebagai tempat Rasulullah berhijrah. Ayat-ayat Makkiyah diturunkan lebih awal daripada ayat-ayat Madaniyah. Metode Makkiyah dan Madaniyah ini akan sangat relevan apabila dihubungkan dengan perjalanan dakwah Nabi yang berlangsung selama 23 tahun. 13 tahun pertama berada di Makkah, dan 10 tahun terakhir berada di Madinah. Kedua kata ini ditambahkan dengan “iyah” sebagai sebutan penisbahan. Fungsi dari nisbah yang juga bisa disebut sebagai atribut ini adalah untuk menerangkan secara spesifik tempat tersebut. Konsep Makkiyah dan Madaniyah digunakan untuk memberikan pemahaman tentang kronologi latar belakang ayat. Manakah ayat yang turun lebih dahulu, dan mana yang lebih belakangan. Ini terkait dengan konsep nasikh dan mansukh dalam Al-Qur’an, mana ayat yang menghapus dan mana ayat yang dihapus. Ciri-Ciri Surat Makkiyah Makkiyah cenderung bersifat qasir pendek, seperti surat al-Alaq, al-Muzammil, al-Mudatsir, dan lain-lain. Sedangkan Madaniyah bersifat tiwal panjang, seperti al-Baqarah, al-Maidah, dan seterusnya. Pada ayat-ayat Makkiyah, kita dapat menemukan lafal kalla ingatlah. dan surat-surat yang diawali dengan huruf tahajji alfabet hijaiyah. Huruf tahajji adalah yang mana maknanya tidak bisa diketahui, wallahu alam, Allah lebih tahu terhadap maksud dan tujuannya. Contohnya seperti pada surat Qaf “qaf”, Maryam “kaf ha ya ain shod”, al-Baqarah “alif lam mim”, Luqman “alif lam mim”, dan masih banyak lagi. Dalam surat Makkiyah juga terdapat ayat-ayat sajdah, ayat yang mana kita disunnahkan untuk bersujud tilawah setelah melantunkannya. Surat yang banyak mengandung kisah para nabi dan umat-umat terdahulu juga relatif dikategorikan sebagai bagian dari Makkiyah. Dakwah Rasulullah di Makkah juga lebih melingkupi aspek tauhid, akidah, dan penanaman akhlak mulia, meski ada pula ibadah yang diperintahkan pada saat di Makkah. Sehingga, ayat Makkiyah lebih banyak berbicara tentang hal-hal tersebut. Karena masyarakat yang dihadapi oleh Rasulullah pada saat itu adalah kaum Musyrikin di Makkah, ayat Makkiyah pada umumnya menggunakan kata “yaa ayyuhannaas”. Sebagai contoh, Juz 30 didominasi dengan surat-surat Makkiyah. Alasannya dikarenakan mayoritas suratnya yang bersifat qasir dan penurunan ayatnya yang terjadi di Makkah. Surat Makkiyah juga banyak menceritakan tentang kemusyrikan serta adat istiadat buruk kaum Quraisy dari segi pengisahan, bukan dari segi hukum. Meskipun begitu, tidak semua surat dalam Al-Qur’an adalah mutlak Makkiyah sepenuhnya, maupun sebaliknya. Ada pula surat seperti al-Hajj, surat Madaniyah yang mengandung sejumlah ayat Makkiyah. Ciri-Ciri Surat Madaniyah Sementara itu, dakwah Rasulullah ketika di Madinah lebih menekankan pada aspek muamalah dan pembangunan peradaban, juga membahas hubungan horizontal antara sesama manusia. Ibadah-ibadah yang lebih kompleks seperti salat Jum’at, juga diperintahkan di Madinah. Karena yang dihadapi oleh Rasulullah adalah masyarakat muslim, maka ayat-ayatnya biasanya menggunakan kata “yaa ayyuhalladziina aamanu…”. Contohnya seperti surat al-Anfal dan surat An-Nisa. Surat atau ayat Madaniyah juga banyak mengemukakan bukti dan argumentasi secara logis mengenai kebenaran tentang agama berdasarkan logika. Tiga Unsur Perspektif Pembeda Makkiyah dan Madaniyah Terdapat tiga unsur perspektif yang membedakan surat atau ayat Makkiyah dan Madaniyah. Para ulama meninjau ayat-ayat serta surat dan Al-Qur’an, kemudian mengklasifikasikannya sebagai Makkiyah dan Madaniyah, melalui unsur-unsur berikut. Pertama, tinjauan dari segi waktu. Makkiyah merupakan surat atau ayat yang turun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Sedangkan Madaniyah sebaliknya, ia mengkategorikan surat atau ayat yang turun setelah Nabi hijrah ke Madinah. Kedua, tinjauan dari segi tempat. Seperti namanya, Makkiyah mencakup surat atau ayat yang diturunkan di kota Makkah. Dan Madaniyah mencakup surat atau ayat yang diturunkan di kota Madinah. Ketiga, tinjauan dari segi khitob. Khitob adalah sasaran atau tujuan. Dalam kasus ini, khitob yang dimaksud adalah ke penduduk mana ayat atau surat ini diturunkan. Di Makkah, atau di Madinah? []